Bojonegoro, Kabupaten di Jawa Timur yang lebih dikenal sebagai “Kota Migas”, kini semakin mendapatkan pengakuan luas bukan hanya karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena sebuah kuliner legendaris yang telah menyatu dengan identitas daerahnya krupuk Abang Ijo. Sejak tahun 1929, krupuk berbentuk spiral berwarna-warni ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bojonegoro, bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada Agustus 2024 lalu. Kini, tidak berlebihan jika Bojonegoro disebut sebagai “Kota Krupuk Abang Ijo”, karena krupuk ini bukan hanya sekadar makanan, melainkan juga simbol perjuangan, keberlanjutan budaya, dan motor penggerak ekonomi lokal.
Kisah krupuk Abang Ijo dimulai dari perjuangan pasangan suami istri Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio. Pada awalnya, mereka membuka toko kelontong di timur pasar kota Bojonegoro, namun usaha tersebut harus ditutup. Kemudian, mereka pergi ke Sidoarjo bersama dua rekannya asal Tuban untuk belajar membuat krupuk, namun usaha yang mereka dirikan tidak bertahan lama akibat kurangnya pemahaman pasar dan pengalaman. Setelah itu, Tan Tjian Liem sempat mencoba bidang batik sebelum akhirnya kembali ke Bojonegoro untuk mendirikan pabrik krupuk pada tanggal 8 Maret 1929, di dekat Klenteng Hok Swie Bio, Jalan Jaksa Agung Suprapto.
Pada awalnya, krupuk yang diproduksi hanya berwarna putih. Namun, karena dianggap kurang menarik bagi konsumen, mereka menambahkan varian warna merah, hijau, dan kuning, yang kemudian memberikan nama “Abang Ijo” bahasa setempat yang berarti merah dan hijau. Di masa yang sama, mereka juga sempat memproduksi tahu dan kecap, namun akhirnya fokus pada pembuatan krupuk karena kesulitan dalam mengelola kedua usaha tersebut sekaligus.
Anton Indarno, generasi keempat yang menjalankan usaha krupuk Abang Ijo atau yang juga dikenal sebagai Krupuk Klenteng Rasa Asli, mengungkapkan bahwa awal mula usaha ini terjadi pada masa yang penuh tantangan. “Kondisi Bojonegoro saat itu sedang memburuk akibat luapan Sungai Bengawan Solo yang menyebabkan gagal panen, dan pemerintah Hindia Belanda juga mengalami depresi ekonomi,” ujar Anton. Namun, kegigihan dan ketekunan pasangan suami istri pendiri berhasil membawa usaha ini melalui berbagai rintangan hingga kini.
Pada Desember 2024, krupuk Abang Ijo resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Riset, dan Teknologi. Pengakuan ini bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi juga bukti bahwa krupuk Abang Ijo merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan sosial yang tinggi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Budiyanto (saat menjabat), menyatakan bahwa pengakuan ini memiliki makna yang sangat penting bagi daerah. “Dengan diakuinya krupuk Abang Ijo sebagai WBTB Indonesia, ada semangat untuk melestarikan sebagai ikon daerah. Selain itu, krupuk ini terbukti sebagai budaya asli Bojonegoro yang tidak bisa diklaim oleh daerah lain, dan diharapkan dapat menjadi alat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat,” jelas Budiyanto.
Anton Indarno pun menyampaikan rasa bangganya atas pengakuan tersebut. “Ini menjadi bukti bahwa jika sebuah obyek budaya dirawat dan dijaga dengan baik, maka akan bisa bertahan lama dan berkesinambungan. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemerintah telah berusaha sungguh-sungguh dalam melaksanakan UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” ujarnya. Ia juga berharap bahwa pengakuan ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha tradisional lainnya untuk tidak merasa minder dan terus menjaga kearifan budaya lokal yang mereka miliki.
Krupuk Abang Ijo memiliki keunggulan tersendiri yang membuatnya tetap diminati hingga kini. Produk ini dibuat dari tepung dengan menggunakan bahan-bahan alami dan tanpa zat kimia tambahan yang berbahaya seperti borak, pemekar, atau pengeras. Hanya sedikit pewarna alami digunakan untuk mempercantik tampilan krupuk, sehingga menjadikannya aman dan sehat untuk dikonsumsi. Selain itu, krupuk ini juga telah memiliki sertifikasi dari lembaga terpercaya seperti Unit Layanan Pengujian Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dan PT Sucofindo, yang menjamin kualitas dan keamanannya.
Di bawah pengelolaan Anton Indarno, usaha krupuk Abang Ijo terus mengalami perkembangan dan inovasi. Ia telah memperbarui desain kemasan dan logo produk agar lebih menarik dan sesuai dengan selera konsumen modern. Selain itu, ia juga memanfaatkan teknologi digital dan media sosial untuk mempromosikan produk, sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.
“Inovasi yang kami lakukan tidak hanya bertujuan untuk memperluas pasar, tetapi juga untuk menjaga kelangsungan usaha dan memastikan bahwa krupuk Abang Ijo tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Anton. Ia juga menambahkan bahwa meskipun dilakukan inovasi, proses pembuatan krupuk masih tetap menggunakan metode tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, karena hal tersebut menjadi ciri khas dan nilai jual tersendiri dari produk ini.
Krupuk Abang Ijo tidak hanya memberikan manfaat bagi keluarga pengelolanya, tetapi juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi lokal Bojonegoro. Usaha ini menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Selain itu, krupuk Abang Ijo juga menjadi salah satu oleh-oleh khas Bojonegoro yang banyak dicari oleh wisatawan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dan mendukung perkembangan sektor pariwisata daerah.
Budiyanto menjelaskan bahwa dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, krupuk Abang Ijo memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata kuliner di Bojonegoro. “Kita berharap bahwa krupuk Abang Ijo dapat menjadi magnet untuk menarik wisatawan datang ke Bojonegoro, baik untuk mencicipi kuliner khas ini maupun untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarah dan budaya di baliknya,” katanya.
Selain itu, perkembangan usaha krupuk Abang Ijo juga memberikan inspirasi bagi pelaku usaha kecil dan menengah lainnya di Bojonegoro untuk mengembangkan produk unggulan lokal mereka. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, diharapkan bahwa lebih banyak produk kuliner dan kerajinan lokal dari Bojonegoro dapat dikenal secara luas dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian daerah.
Meskipun telah mencapai banyak prestasi dan pengakuan, usaha krupuk Abang Ijo masih menghadapi beberapa tantangan di masa depan. Salah satu tantangan utama adalah menjaga kualitas produk dan keaslian rasa yang telah menjadi ciri khasnya, terutama dengan semakin banyaknya produk sejenis yang beredar di pasaran. Selain itu, tantangan lain adalah mengatasi masalah pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi produksi, dan mengembangkan pasar baru.
Anton Indarno menyadari akan tantangan tersebut dan berkomitmen untuk terus menjaga kualitas dan keaslian produk krupuk Abang Ijo. “Kami akan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas produk, mengembangkan varian rasa baru yang tetap sesuai dengan karakteristik krupuk Abang Ijo, dan memperluas pasar dengan memanfaatkan teknologi dan kemajuan zaman,” ujarnya. Ia juga berharap bahwa pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih kuat dan luas terhadap produk budaya lokal seperti krupuk Abang Ijo, baik dalam bentuk kebijakan, pendanaan, maupun promosi.
Budiyanto juga menambahkan bahwa pemerintah Kabupaten Bojonegoro akan terus berperan aktif dalam melestarikan dan mengembangkan krupuk Abang Ijo sebagai warisan budaya daerah. “Kita akan melakukan berbagai upaya seperti mengembangkan destinasi wisata kuliner yang berfokus pada krupuk Abang Ijo, memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku usaha, serta melakukan promosi secara terus-menerus untuk meningkatkan daya saing produk ini di pasar nasional dan internasional,” katanya.
Krupuk Abang Ijo telah menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Bojonegoro selama hampir satu abad. Sejarah perjuangan, keunggulan produk, dan kontribusi yang diberikan terhadap ekonomi dan budaya lokal membuatnya layak disebut sebagai ikon daerah yang patut dibanggakan. Dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan dukungan yang terus diberikan oleh pemerintah dan masyarakat, diharapkan bahwa krupuk Abang Ijo akan terus eksis dan menjadi bagian penting dari identitas Bojonegoro sebagai “Kota Krupuk Abang Ijo” di masa depan.
Penulis : Gok Ras


