Kirab 9 Pusaka Ki Andong Sari Ledok Kulon Makin Megah, Jadi Ikon Tahunan yang Diharapkan Terus Berkembang

BOJONEGORO. 5 Juli 2026 | Tradisi agung kirab sembilan pusaka peninggalan tokoh legendaris daerah, Ki Andong Sari, kembali digelar dengan kemeriahan luar biasa di wilayah Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan dan Kabupaten Bojonegoro. Acara yang kini telah menetap sebagai agenda tahunan kebanggaan warga ini berlangsung penuh khidmat dan semangat gotong royong, diiringi pawai besar yang diikuti perwakilan dari seluruh Rukun Tetangga (RT) se‑Kelurahan Ledok Kulon maupun warga bertetangga dari Kelurahan Ledok Wetan.

Kirab ini menjadi salah satu perwujudan nyata pelestarian warisan budaya dan sejarah lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Sembilan benda pusaka yang dikirabkan bukan sekadar benda kuno, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah dan memiliki makna spiritual mendalam bagi asal‑usul serta perkembangan wilayah ini, yang diyakini sebagai peninggalan Ki Andong Sari—tokoh yang dihormati, dianggap sebagai pelopor, pembuka wilayah, serta pelindung masyarakat di masa silam.

Adapun kesembilan pusaka yang dikirabkan dan menjadi kebanggaan warga adalah:

1. Tumbak Godong Andong
2. Tumbak Gagak Cemani
3. Tongkat Galeh Kelor
4. Tongkat Menjalin Bang
5. Tongkat Menjalin Porong
6. Rompi Onto Kusumo
7. Slempang Kebesaran
8. Pedang Cekik
9. Kentrung

Secara turun‑temurun, warga meyakini setiap pusaka membawa pesan dan kekuatan tersendiri. Ada yang melambangkan kewibawaan dan kepemimpinan, seperti Rompi Onto Kusumo dan Slempang Kebesaran; ada yang menjadi simbol kesuburan tanah dan kelimpahan hasil bumi, salah satunya Tongkat Galeh Kelor. Beberapa benda seperti Tumbak Godong Andong, Tumbak Gagak Cemani, dan Pedang Cekik dipercaya sebagai penolak bala serta perlambang kekuatan menjaga wilayah. Sementara itu, Tongkat Menjalin Bang dan Tongkat Menjalin Porong dikaitkan dengan kemampuan luar biasa dalam menyeberangi sungai dan mengatur aliran air, sedangkan Kentrung menjadi alat dakwah sekaligus penyamaran Ki Andong Sari saat menyebarkan ajaran kebaikan. Keberadaan dan penghormatan terhadap benda‑benda ini menjadi ikatan batin yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat di kedua kelurahan tersebut.

Suasana semakin hidup dan meriah saat rombongan kirab bergerak menyusuri jalan‑jalan utama kelurahan. Barisan peserta pawai yang berdatangan dari setiap lingkungan tampak berbaris rapi, membawa atribut khas, hiasan, serta penampilan yang menggambarkan kekayaan budaya daerah. Kehadiran simpatisan dari dua kelurahan bersebelahan ini membuktikan bahwa tradisi tersebut bukan hanya milik satu lingkungan semata, melainkan menjadi ikatan persaudaraan dan kebanggaan bersama warga sekitar.

Turut hadir dan memeriahkan puncak acara kirab adalah Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah. Kehadiran perwakilan pemerintah daerah ini memberikan dukungan sekaligus apresiasi langsung terhadap upaya warga dalam menjaga dan melestarikan tradisi leluhur. Bersama Wakil Bupati, hadir pula jajaran lengkap perangkat Kelurahan Ledok Kulon, mulai dari lurah, staf, hingga para ketua lingkungan, yang turut mendampingi jalannya acara serta memastikan segala rangkaian kegiatan berjalan tertib, aman, dan lancar.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Nurul Azizah menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang setinggi‑tingginya kepada seluruh warga Ledok Kulon maupun Ledok Wetan yang telah berperan aktif menyukseskan kegiatan ini. Menurutnya, agenda kirab pusaka ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bukti nyata bahwa nilai‑nilai sejarah, budaya, dan persaudaraan di Kabupaten Bojonegoro tetap hidup dan terjaga dengan baik di tengah perkembangan zaman.

“Kegiatan seperti ini adalah bukti bahwa kita tidak melupakan akar dan jati diri kita. Semangat kebersamaan dan gotong royong yang terlihat hari ini sangat luar biasa, dan menjadi modal kuat bagi kemajuan kelurahan ini serta Kabupaten Bojonegoro secara keseluruhan. Pemerintah daerah tentu akan terus mendukung pelestarian budaya yang positif dan menyatukan masyarakat seperti ini,” ungkap Nurul Azizah di hadapan ribuan warga yang hadir menyaksikan prosesi kirab.

Sementara itu, Lurah Ledok Kulon dalam laporannya menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya partisipasi warga, kekayaan hiasan dan penampilan dalam pawai, serta dukungan yang mengalir dari berbagai pihak. Tradisi ini pun kini telah bertransformasi menjadi ikon budaya tahunan yang ditunggu‑tunggu, sekaligus menjadi daya tarik yang memperkuat identitas dan kebersamaan warga di wilayah tersebut.

Prosesi kirab berjalan dengan tertib dan penuh rasa hormat, ditutup dengan doa bersama agar warisan leluhur senantiasa memberikan berkah, kesejahteraan, kedamaian, dan kemajuan yang berkelanjutan bagi Kelurahan Ledok Kulon, Ledok Wetan, serta seluruh masyarakat Bojonegoro.

Pewarta : Gok Ras

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ojo Copast Cok !!